PFCBILAL-Ada hal kontradiktif antara rangkaian statemen La Nyalla. Jauh-jauh hari ia menyatakan kalau laga timnas melawan belanda, sekedar hiburan sekaligus hanya menimba ilmu dan pengalaman. Namun, kemudian dia tampak berang dan menganggap serius pertandingan ini. Hanya gara-gara masalah seragam.
Ternyata banyak yang melupakan filosofi ikhlas dan kebersihan hati, yang melandasi seragam kedua/tandang timnas, yang berwarna putih-hijau. Pasca kejadian tersebut, La Nyalla berkoar akan segera melakukan penertiban EO/promotor yang ada di Indonesia dan akan melakukan seleksi ketat.
Selain masalah seragam. Ada anomali lainnya seperti masalah konferensi pers, distribusi dan harga tiket yang harganya tak sesuai dengan nominal tertera, serta keluhan dari pihak wartawan yang complain masalah ID Card.
Rangkaian kejadian kurang menyenangkan tersebut. Mungkin ini disebabkan kurang sinkronisasi antara EO dari NineSports dengan PanPel dari pihak PSSI rezim baru.
Kita lihat nanti ancaman La Nyalla apakan akan berpengaruh akan event-event Timnas selanjutnya? Dan Timnas oleh La Nyalla akan ‘didagangkan’ ke mana saja.
Karena untuk mencapai target rangking 120 FIFA. Tentu Timnas membutuhkan sangat banyak laga ujicoba terutama dengan negara yang bisa dikalahkan oleh Indonesia, sehingga dapat mengatrol poin perhitungan untuk rangking FIFA tersebut.
Hal itu hanya dapat direalisasikan dengan kerjasama dan saling menghargai dengan banyak itikad baik. Dengan EO/Promotor, dan juga dengan pihak/federasi negara lain.
Kemarin, La Nyalla tak tampak dalam laga antar Timnas melawan Belanda di GBK, Senayan, entah apa kesibukannya? Sedangkan Roy Suryo (Menpora) dan Djohar Arifin (Ketua Umum PSSI) ada di lapangan. Sebagai Ketua BTN, yang jadi otoritas tertinggi pengelolaan Timnas. Diharapkan La Nyalla dapat mengendalikan emosinya yang kadang meledak-ledak. Karena sikap otoriter, hanya akan mengucilkan Indonesia dari globalisasi/industrialisasi/profesionalisme sepakbola ranah internasional.
Saya sebagai Pecinta Timnas Indonesia, hanya bisa berharap hal yang terbaik untuk Timnas Indonesia. Siapapun skuad-nya dan berapa-pun peringkatnya, akan tetap memberi dukungan untuk Timnas. Meski hanya bisa menyaksikannya lewat layar kaca, dan sekali-kali nonton langsung di GBK.
Penulis : De Ezra
sumber : Kompasiana
PFCBILAL-Ada hal kontradiktif antara rangkaian statemen La Nyalla. Jauh-jauh hari ia menyatakan kalau laga timnas melawan belanda, sekedar hiburan sekaligus hanya menimba ilmu dan pengalaman. Namun, kemudian dia tampak berang dan menganggap serius pertandingan ini. Hanya gara-gara masalah seragam.
Ternyata banyak yang melupakan filosofi ikhlas dan kebersihan hati, yang melandasi seragam kedua/tandang timnas, yang berwarna putih-hijau. Pasca kejadian tersebut, La Nyalla berkoar akan segera melakukan penertiban EO/promotor yang ada di Indonesia dan akan melakukan seleksi ketat.
Selain masalah seragam. Ada anomali lainnya seperti masalah konferensi pers, distribusi dan harga tiket yang harganya tak sesuai dengan nominal tertera, serta keluhan dari pihak wartawan yang complain masalah ID Card.
Rangkaian kejadian kurang menyenangkan tersebut. Mungkin ini disebabkan kurang sinkronisasi antara EO dari NineSports dengan PanPel dari pihak PSSI rezim baru.
Kita lihat nanti ancaman La Nyalla apakan akan berpengaruh akan event-event Timnas selanjutnya? Dan Timnas oleh La Nyalla akan ‘didagangkan’ ke mana saja.
Karena untuk mencapai target rangking 120 FIFA. Tentu Timnas membutuhkan sangat banyak laga ujicoba terutama dengan negara yang bisa dikalahkan oleh Indonesia, sehingga dapat mengatrol poin perhitungan untuk rangking FIFA tersebut.
Hal itu hanya dapat direalisasikan dengan kerjasama dan saling menghargai dengan banyak itikad baik. Dengan EO/Promotor, dan juga dengan pihak/federasi negara lain.
Kemarin, La Nyalla tak tampak dalam laga antar Timnas melawan Belanda di GBK, Senayan, entah apa kesibukannya? Sedangkan Roy Suryo (Menpora) dan Djohar Arifin (Ketua Umum PSSI) ada di lapangan. Sebagai Ketua BTN, yang jadi otoritas tertinggi pengelolaan Timnas. Diharapkan La Nyalla dapat mengendalikan emosinya yang kadang meledak-ledak. Karena sikap otoriter, hanya akan mengucilkan Indonesia dari globalisasi/industrialisasi/profesionalisme sepakbola ranah internasional.
Saya sebagai Pecinta Timnas Indonesia, hanya bisa berharap hal yang terbaik untuk Timnas Indonesia. Siapapun skuad-nya dan berapa-pun peringkatnya, akan tetap memberi dukungan untuk Timnas. Meski hanya bisa menyaksikannya lewat layar kaca, dan sekali-kali nonton langsung di GBK.
Penulis : De Ezra
sumber : Kompasiana
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar: