Inilah Tanggapan Duo Pelatih Duo PSMS Perihal Penghentian Dualisme

PFCBILAL- Wacana penyatuan PSMS Medan kembali mencuat usai gelaran Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI, Minggu (17/3/2013) lalu. Secara prinsipil masing-masing tim pelatih menyambut antusias iktikad luhur tersebut. Bila ada sudut pandang berbeda, hal itu menyasar pada waktu atau kapan momentum tepat dualisme dihentikan. Pelatih kepala PSMS Medan versi PT Liga Indonesia (LI), Suimin Diharja mendukung total realisasi penyatuan. Menurutnya, penyatuan duo PSMS berbanding lurus dengan kesempatan menggunakan jasa putra daerah terbaik. Selaras dengan itu pula tim berjuluk Ayam Kinantan mampu berkompetisi dengan kompetitif. "Sangat bagus. Artinya kita bisa memanfaatkan putra-putra terbaik daerah Sumatera Utara untuk memperkuat PSMS Medan. Hanya dengan penyatuan klub suatu daerah semakin solid, baik itu secara tim maupun keuangan," kata Suimin saat dihubungi Tribun dari Medan via telepon seluler, Senin (18/3/2013) petang tadi. Begitupun, upaya penyatuan tidaklah semudah membalik telapak tangan. Ada beberapa hal sensitif yang menuntut dituntaskan dengan iktikad dan komitmen. Satu diantaranya adalah bagaimana formulasi penggabungan dua tim yang masing-masing sudah terbentuk. Jika dilakukan dengan mengedepankan penilaian objektif, maka harus ada pemberlakuan metode eliminasi. Pencoretan sudah pasti akan menimpa beberapa pemain dari tiap-tiap tim. Keputusan yang tidak mudah bagi masing-masing tim pelatih. "Jelas saja begitu, semua ada untung ruginya. Kepentingan PSMS jauh lebih besar dan penting. Kalau timnya digabung, kita akan pakai pemain-pemain yang sesuai kebutuhan teknis. Di sana (PSMS LPIS, red) kan ada beberapa pemain berkualitas juga," ujar pria berjuluk Pelatih Kampung ini. Walaupun demikian, Suimin tak mau berandai-andai terlalu jauh. "Masa depan klub pasti lebih cerah. Tapi, semuanya ada di tangan pimpinan dua PSMS ini. Kita tunggu saja bagaimana hasil pembicaraan mereka," tandasnya. Sementara itu, Asisten Pelatih PSMS Medan versi PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS), Edy Syahputra menyebutkan penyatuan PSMS musim ini bukanlah momen yang tepat. Situasi dua klub jauh berbeda. Anak asuhnya belum menjalani kompetisi resmi, sedangkan PSMS LI sudah mengakhiri kompetisi paruh musim. "Pada prinsipnya, saya sangat mendukung dan memang mengingikan PSMS bersatu. Tapi pandangan saya pribadi terlepas dari rekonsiliasi dua pucuk pimpinan, jangan musim ini melainkan musim depan. Biarkan saja dulu berjalan sendiri-sendiri," katanya. Edy menuturkan penyatuan PSMS punya ekses kurang baik kepada pemain. "Di PSMS sebelah, semua pemainnya sudah bermain sampai setengah musim. Kasihan juga kan kalau ada yang dicoret. Sebaliknya di sini juga seperti itu," lanjutnya. Ia menyebutkan formulasi penyatuan tim secara objektif bisa diperoleh di akhir kompetisi. Tim pelatih punya rapor tiap pemain sampai akhir kompetisi. Sehingga saat PSMS disatukan, pemain yang punya nilai tertinggi itulah yang dipakai untuk memperkuat tim Ayam Kinantan di musim depan. Seperti diketahui, wacana penyatuan disampaikan oleh Ketua Umum PSMS LPIS, Benny Harianto Sihotang dan Wakil Manajer Tim, Julius Raja. Keduanya mengaku sudah berbincang dan sepakat dengan Ketua Umum PSMS LI, Indra Sakti. Sayang, sampai saat ini Indra masih enggan memberi komentar. (tribunmedan.com)

0 komentar: