TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Di tengah hiruk pikuk polemik seputar Rapat Umum Luar Biasa (RULB), secercah harapan datang dari PSMS U-19 atau PSMS Muda. Pembinaan pemain muda lokal tetap berjalan lewat latihan reguler (selasa, kamis, sabtu) tanpa gangguan berarti.
Tim ini awalnya dibentuk sebagai syarat AFC bagi klub profesional yang harus memiliki pembinaan berjenjang. Konon, pengurus harian tidak sedikitpun menyokong operasional tim. Parahnya lagi, PT Liga Indonesia juga tidak mengakomodir lewat turnamen reguler.
Suyono, pelatih PSMS Muda mengatakan pembentukan cikal bakal pemain senior ini tidak memeroleh kepedulian dan komitmen dari pengurus.
"Sedih sekali sebenarnya situasinya. Awalnya, ini kan dibentuk untuk syarat supporting bagi PSMS. Tapi tidak ada bantuan apapun yang kita dapat. Kalaupun ini bisa berjalan karena ada pak Yahya (manajer) yang bersedia membantu operasional tim," katanya saat berbincang dengan Tribun di Kebun Bunga, Rabu (5/9).
"PSMS Muda ini milik masyarakat Sumut bukan pengurus. Jadi, kami nggak ada condong ke satu pihak pun. Siapapun ketua umumnya terserah. Toh, dananya juga pribadi. Bola-bola latihan dan kostum juga dananya dari manajer. Kami hanya fokus ke pembinaan dan tetap akan berjalan selama kami mampu," ungkapnya lagi.
Saat ini ada 25 pemain yang dijaring lewat seleksi ditambah empat pemain magang. Tim yang sudah berjalan selama setahun ini belum pernah mengikuti turnamen resmi. Dalam masa setahun sudah melakukan ujicoba sebanyak 30 kali, di Medan dan luar kota Medan. Tim pelatih digawangi Suyono (pelatih), Rahmad Basuki dan Sudarto (asisten), Sahari Gultom (pelatih kiper).
"Harapan kita yang paling mendalam adalah, adanya kebijakan PSSI untuk menjalankan kompetisi. Itu sangat penting untuk menempa kemampuan dasar dan mentalitas pemain muda ini. Musim lalu mandeg, PSSI yang dualisme membuat semuanya hancur," ungkapnya lagi.
Tiga kali dalam seminggu berlatih diyakini mampu menggenjot potensi besutannya. Pemain muda yang dijaring dari batasan usia terendah 1996 hingga batasan usia tertinggi 1994.
Tim pelatih tinggal mengembangkan kemampuan olah bola dan mentalitas karena fundamental skill sudah lebih dulu terbentu semasa di SSB masing-masing pemain. Di tim ini pula, filosofi rap-rap diajarkan dan dimodifikasi sesuai kebutuhan sepakbola modern.
Hasilnya terbilang positif, Airlangga (kiper) sudah direkrut PSMS Medan ISL saat kompetisi berjalan musim 2011/2012. Rizki yang beroperasi di sektor gelandang direkrut ke PSMS U-21.
Di hubungi di tempat berbeda, Manajer Tim Yahya mengaku tidak dipusingkan ketidakpedulian pengurus. Menurutnya roda pembinaan tetap bisa berjalan selama setahun terakhir. Visi yang diapungkan yakni memberdayakan putra daerah untuk dipersiapkan ke kasta profesional.
"Kalau ada yang mau bantu silahkan. Selama ini kan nggak ada. Tapi saya nggak mau bahas itu, ya sudahlah. Saya urus tim ini karena mencintai sepakbola. Saya juga heran, kenapa PSMS Medan nggak bisa mendapatkan sebelas pemain lokal berkualitas. Masak, Sumut yang sangat luas ini tidak punya pemain hebat," kata Yahya yang berlatarbelakang pengusaha di bidang peternakan.
"Saya hanya melakukan, apa yang saya yakini. Yang saya lihat selama ini PSMS dijadikan tempat cari makan dan cari jabatan saja. Saya juga tidak akan mengarahkan pemain-pemain muda ini untuk ke arah mana (PSSI-KPSI, red). Pembinaan saja. Sakit perasaan ini membicarakan itu. Kalau anak-anak ini bermain bagus, ya bisa main di PSMS senior atau klub profesional lainnya," pungkasnya. (raf/tribun medan)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar: