Pasca diberitakan menjadi calon kuat sebagai pelatih kepala PSMS LPIS (Tribun menyebutnya PSMS Demokrat) menggantikan Abdul Rahman Gurning, yang hengkang ke Arema Malang versi IPL, Edi Syahputra, disibukkan dengan kegiatan baru berupa mengangkat telepon dan menjawab SMS yang masuk.
"Banyak la. Yang ga pernah nelpon pun nelpon. Itu kan hebohnya hari ini, setelah pemberitaan di beberapa media. Tetapi semua sudah saya jelaskan bahwa itu belum pasti dan saya sendiri belum menerima SK dari manajemen. Tetapi sebagai pelatih, siapa sih yang tidak mau menjadi pelatih kepala dan menjalankan materi latihan sendiri," urainya, Sabtu (23/2) malam melalui selulernya.
Ia pun mengatakan, hari itu tetap memiliki perasaan yang sama dan tidak ada yang berbeda. "Biasa aja. Kalau ditanya perasaan biasa aja. Karena gini ini kan masih wacana. Karena wacana saya menanggapi biasa saja," ujarnya.
Mantan asisten pelatih teknik klub Liga Primer Indonesia (LPI) yang saat itu bernama Bintang Medan (BM) ini pun menjelaskan, keputusannya di Medan tetap ia ambil meskipun lisensi A kepelatihan sudah ia pegang dan adanya dua klub diluar Sumatera yang sudah meminangnya menjadi pelatih kepala.
Alasannya bukan karena akan diangkat sebagai pelatih kepala PSMS, melainkan ia melihat kondisi persepakbolaan nasional selama ini sama saja. Selain itu ia mengaku telah dikontrak secara lisan oleh PSMS. "Jadi sebelum saya mengambil lisensi A kepelatihan, PSMS sudah meminang saya. Dan saya katakan saya ingin mengambil lisensi dan mereka merestui," urainya.
Namun, terlepas dari sekelumit masalah di dualisme kepengurusan PSMS dan banyaknya masalah-masalah lain di manajemen klub, terdapat sisi lain Edi. Adalah Suharto AD, mantan bos atau pimpinannya semasa bersama-sama mengarsiteki Bintang Medan dan PSMS musim 2010/2011, ini ternyata belum mengetahui isu atau wacana naik kastanya Edi menjadi pelatih kepala PSMS LPIS.
Suharto AD sendiri yang sekarang bertindak sebagai asisten pelatih PSMS LI (Tribun menyebutnya PSMS Swasta), yang dipimpin oleh Suimin, sampai dengan malam itu belum ada mengabarinya. "Itu kan ributnya gara-gara koran tadi. Mungkin dia (Suharto) belum mengetahui karena sedang ke luar kota menjalani laga away," urainya.
Lantas, apakah kini dirinya sungkan atau memiliki perasaan lain terhadap Suharto, yang notabene kini dalam hal status klasifikasi lisensi dibawahnya? "Sungkan tidak, kita tetap profesional kok," ujar Edi.
Apakah nanti jika diduetkan bersama Suharto, di mana ia sebagai pelatih kepala dan Suharto menjadi asistennya ia siap? "Kita lihat situasinya. Kita bukan cerita sekarang kan, tetapi suatu saat bisa saja. Kalau diminta ya kenapa pula tidak," ujar Edi tertawa.
Edi pun mengatakan, hingga sekarang belum memiliki pemikiran berniat berduet kembali dengan Suharto.
"Saat ini belum. Tetapi kita kan ga tau kedepannya seperti apa. Hubungan dengan Suharto tetap sama seperti dahulu," urainya.
Seperti diketahui, kedua nama ini Suharto AD (Angkatan Darat) dan Edi Syahputra, sejak tahun 2010-2012, seakan tak dapat dipisahkan. Di jajaran persepakbolaan Kota Medan, kedua orang ini dianggap berhasil pasca mengarsiteki PSMS Medan musim 2010/2011, setelah kursi kepelatihan berkali-kali diganti.
Edi : yang gak Pernah Nelpon pun Nelpon
Pasca diberitakan menjadi calon kuat sebagai pelatih kepala PSMS LPIS (Tribun menyebutnya PSMS Demokrat) menggantikan Abdul Rahman Gurning, yang hengkang ke Arema Malang versi IPL, Edi Syahputra, disibukkan dengan kegiatan baru berupa mengangkat telepon dan menjawab SMS yang masuk.
"Banyak la. Yang ga pernah nelpon pun nelpon. Itu kan hebohnya hari ini, setelah pemberitaan di beberapa media. Tetapi semua sudah saya jelaskan bahwa itu belum pasti dan saya sendiri belum menerima SK dari manajemen. Tetapi sebagai pelatih, siapa sih yang tidak mau menjadi pelatih kepala dan menjalankan materi latihan sendiri," urainya, Sabtu (23/2) malam melalui selulernya.
Ia pun mengatakan, hari itu tetap memiliki perasaan yang sama dan tidak ada yang berbeda. "Biasa aja. Kalau ditanya perasaan biasa aja. Karena gini ini kan masih wacana. Karena wacana saya menanggapi biasa saja," ujarnya.
Mantan asisten pelatih teknik klub Liga Primer Indonesia (LPI) yang saat itu bernama Bintang Medan (BM) ini pun menjelaskan, keputusannya di Medan tetap ia ambil meskipun lisensi A kepelatihan sudah ia pegang dan adanya dua klub diluar Sumatera yang sudah meminangnya menjadi pelatih kepala.
Alasannya bukan karena akan diangkat sebagai pelatih kepala PSMS, melainkan ia melihat kondisi persepakbolaan nasional selama ini sama saja. Selain itu ia mengaku telah dikontrak secara lisan oleh PSMS. "Jadi sebelum saya mengambil lisensi A kepelatihan, PSMS sudah meminang saya. Dan saya katakan saya ingin mengambil lisensi dan mereka merestui," urainya.
Namun, terlepas dari sekelumit masalah di dualisme kepengurusan PSMS dan banyaknya masalah-masalah lain di manajemen klub, terdapat sisi lain Edi. Adalah Suharto AD, mantan bos atau pimpinannya semasa bersama-sama mengarsiteki Bintang Medan dan PSMS musim 2010/2011, ini ternyata belum mengetahui isu atau wacana naik kastanya Edi menjadi pelatih kepala PSMS LPIS.
Suharto AD sendiri yang sekarang bertindak sebagai asisten pelatih PSMS LI (Tribun menyebutnya PSMS Swasta), yang dipimpin oleh Suimin, sampai dengan malam itu belum ada mengabarinya. "Itu kan ributnya gara-gara koran tadi. Mungkin dia (Suharto) belum mengetahui karena sedang ke luar kota menjalani laga away," urainya.
Lantas, apakah kini dirinya sungkan atau memiliki perasaan lain terhadap Suharto, yang notabene kini dalam hal status klasifikasi lisensi dibawahnya? "Sungkan tidak, kita tetap profesional kok," ujar Edi.
Apakah nanti jika diduetkan bersama Suharto, di mana ia sebagai pelatih kepala dan Suharto menjadi asistennya ia siap? "Kita lihat situasinya. Kita bukan cerita sekarang kan, tetapi suatu saat bisa saja. Kalau diminta ya kenapa pula tidak," ujar Edi tertawa.
Edi pun mengatakan, hingga sekarang belum memiliki pemikiran berniat berduet kembali dengan Suharto.
"Saat ini belum. Tetapi kita kan ga tau kedepannya seperti apa. Hubungan dengan Suharto tetap sama seperti dahulu," urainya.
Seperti diketahui, kedua nama ini Suharto AD (Angkatan Darat) dan Edi Syahputra, sejak tahun 2010-2012, seakan tak dapat dipisahkan. Di jajaran persepakbolaan Kota Medan, kedua orang ini dianggap berhasil pasca mengarsiteki PSMS Medan musim 2010/2011, setelah kursi kepelatihan berkali-kali diganti.
Pasca diberitakan menjadi calon kuat sebagai pelatih kepala PSMS LPIS (Tribun menyebutnya PSMS Demokrat) menggantikan Abdul Rahman Gurning, yang hengkang ke Arema Malang versi IPL, Edi Syahputra, disibukkan dengan kegiatan baru berupa mengangkat telepon dan menjawab SMS yang masuk.
"Banyak la. Yang ga pernah nelpon pun nelpon. Itu kan hebohnya hari ini, setelah pemberitaan di beberapa media. Tetapi semua sudah saya jelaskan bahwa itu belum pasti dan saya sendiri belum menerima SK dari manajemen. Tetapi sebagai pelatih, siapa sih yang tidak mau menjadi pelatih kepala dan menjalankan materi latihan sendiri," urainya, Sabtu (23/2) malam melalui selulernya.
Ia pun mengatakan, hari itu tetap memiliki perasaan yang sama dan tidak ada yang berbeda. "Biasa aja. Kalau ditanya perasaan biasa aja. Karena gini ini kan masih wacana. Karena wacana saya menanggapi biasa saja," ujarnya.
Mantan asisten pelatih teknik klub Liga Primer Indonesia (LPI) yang saat itu bernama Bintang Medan (BM) ini pun menjelaskan, keputusannya di Medan tetap ia ambil meskipun lisensi A kepelatihan sudah ia pegang dan adanya dua klub diluar Sumatera yang sudah meminangnya menjadi pelatih kepala.
Alasannya bukan karena akan diangkat sebagai pelatih kepala PSMS, melainkan ia melihat kondisi persepakbolaan nasional selama ini sama saja. Selain itu ia mengaku telah dikontrak secara lisan oleh PSMS. "Jadi sebelum saya mengambil lisensi A kepelatihan, PSMS sudah meminang saya. Dan saya katakan saya ingin mengambil lisensi dan mereka merestui," urainya.
Namun, terlepas dari sekelumit masalah di dualisme kepengurusan PSMS dan banyaknya masalah-masalah lain di manajemen klub, terdapat sisi lain Edi. Adalah Suharto AD, mantan bos atau pimpinannya semasa bersama-sama mengarsiteki Bintang Medan dan PSMS musim 2010/2011, ini ternyata belum mengetahui isu atau wacana naik kastanya Edi menjadi pelatih kepala PSMS LPIS.
Suharto AD sendiri yang sekarang bertindak sebagai asisten pelatih PSMS LI (Tribun menyebutnya PSMS Swasta), yang dipimpin oleh Suimin, sampai dengan malam itu belum ada mengabarinya. "Itu kan ributnya gara-gara koran tadi. Mungkin dia (Suharto) belum mengetahui karena sedang ke luar kota menjalani laga away," urainya.
Lantas, apakah kini dirinya sungkan atau memiliki perasaan lain terhadap Suharto, yang notabene kini dalam hal status klasifikasi lisensi dibawahnya? "Sungkan tidak, kita tetap profesional kok," ujar Edi.
Apakah nanti jika diduetkan bersama Suharto, di mana ia sebagai pelatih kepala dan Suharto menjadi asistennya ia siap? "Kita lihat situasinya. Kita bukan cerita sekarang kan, tetapi suatu saat bisa saja. Kalau diminta ya kenapa pula tidak," ujar Edi tertawa.
Edi pun mengatakan, hingga sekarang belum memiliki pemikiran berniat berduet kembali dengan Suharto.
"Saat ini belum. Tetapi kita kan ga tau kedepannya seperti apa. Hubungan dengan Suharto tetap sama seperti dahulu," urainya.
Seperti diketahui, kedua nama ini Suharto AD (Angkatan Darat) dan Edi Syahputra, sejak tahun 2010-2012, seakan tak dapat dipisahkan. Di jajaran persepakbolaan Kota Medan, kedua orang ini dianggap berhasil pasca mengarsiteki PSMS Medan musim 2010/2011, setelah kursi kepelatihan berkali-kali diganti.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar: